Tampilkan postingan dengan label kurs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurs. Tampilkan semua postingan

25 Agustus 2013

Jurus Mengatasi Rupiah


Bank Indonesia (BI) mulai menerapkan banyak jurus untuk meredam tren penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini. Selain intensif melakukan intervensi ke pasar valuta asing dengan mengguyurkan dolar AS sejak pekan lalu, BI juga mulai menerap surat utang negara (SUN).

Lalu, kemarin BI juga memutuskan menaikkan suku bunga deposit fasility dan BI Rate masing-masing sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen dan 6 persen. Selain itu, pimpinan BI pula masih menyiapkan jurus-jurus lain siap digulirkan jika memang diperlukan.

Efektivitas berbagai jurus itu sendiri masih harus ditunggu dalam beberapa hari ini. Mudah-mudahan, tentu, kurs rupiah segera stabil alias tidak terus terseok-seok lagi seperti dalam beberapa pekan terakhir. Namun kalau ternyata kurs rupiah tetap loyo, kita layak khawatir.

Pertama, karena upaya stabilisasi kurs ini sudah makan ongkos yang tak bisa dibilang kecil. Ongkos tersebut paling tidak sudah mencapai 2,12 miliar dolar AS, sehingga cadangan devisa pun susut menjadi 105,149 miliar dolar AS per 31 Mei lalu.

Jadi, kalau intervensi ke pasar valuta asing terus dilakukan BI, sementara kurs rupiah tetap cenderung melemah, berarti ongkos yang dikeluarkan semakin besar sehingga cadangan devisa kian terkuras. Kenyataan seperti itu secara psikologis sungguh rentan terhadap kurs rupiah karena bisa mengundang reaksi negatif di pasar uang.

Kedua, kita juga layak khawatir karena kurs rupiah sempat menembus level psikologis Rp 10.000 per dolar AS. Jika hari-hari ke depan ini kurs rupiah ternyata masih cenderung tertekan, bukan tidak mungkin batas psikologis itu jebol lagi. Jika itu yang terjadi, kepanikan hampir pasti melanda pasar valas. Konsekuensinya, tekanan terhadap rupiah makin berat lagi.

Kemungkinan ke arah itu bukan mustahil. Di satu sisi, karena jurus-jurus yang ditebar BI belum tentu memang merupakan jawaban yang pas untuk mengatasi tren depresiasi rupiah ini. Di sisi lain, juga karena bukan tidak mungkin aneka jurus itu malah dipersepsi pelaku pasar sebagai wujud kepanikan BI dalam menghadapi tekanan terhadap rupiah belakangan ini.

Sebenarnya, upaya stabilisasi rupiah ini bukan melulu tegas BI. Bagaimanapun, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk berbuat konkret dan padu dengan apa yang dilakukan BI.
Namun pemerintah justru terkesankan masih tenang-tenang saja. Seolah-olah pemerintah menyerahkan penuh upaya stabilisasi rupiah kepada BI. Padahal, boleh jadi, sumber masalah yang memicu pelemahan kurs rupiah sekarang ini terletak di sisi pemerintahan.

Tentang itu, sejumlah kalangan sudah sejak jauh hari mengingatkan bahwa faktor yang belakangan menekan kurs rupiah ini antara lain rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang terus menggantung akibat keragu-raguan pemerintah mengambil keputusan. Juga soal defisit dalam neraca pembayaran yang belum terlihat ditangani pemerintah secara serius dan mengesankan. Belum lagi beban utang pemerintah yang sudah menumpuk -- melampaui Rp 2.000 triliun --, sementara utang baru terus saja dijala.

Walhasil, pemerintah sangat diharapkan segera berbuat. Pemerintah jangan lagi bersikap busisess as usual dalam menghadapi tren pelemahan rupiah ini. Bahu-membahu bersama BI, pemerintah harus segera melakukan langkah konkret untuk meredakan tren itu. Antara lain dengan merespons isu-isu yang memicu sentimen negatif di masyarakat, terutama di pasar uang.***

Jakarta, 25 Agustus 2013

19 Agustus 2013

Rupiah di Tubir Jurang


Rupiah di tubir jurang. Ungkapan ini tidak berlebihan karena nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi begitu dalam selama setahun lebih, dan di sisi lain pelehaman masih saja berlangsung.

Kemarin, kurs rupiah kembali melemah ke posisi Rp 10.451 per dolar AS. Memang, depresiasi nilai tukar ini juga dialami berbagai matang uang lain di kawasan regional. Tetapi, soalnya, depresiasi yang dialami rupiah kemarin begitu dalam.

Dibanding Jumat pekan lalu, nilai tukar rupiah -- berdasar kurs tengah Bank Indonesia -- kemarin terdepresiasi 59 poin. Padahal Januari tahun lalu, kurs rupiah ini masih di kisaran Rp 9.079 per dolar AS.

Dengan posisi terakhir Rp 10.451 per dolar AS, nilai tukar rupiah praktis menjadi kondisi terburuk dalam lima tahun terakhir. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap rupiah semakin meluntur. Terutama di pasar uang, orang cenderung kian tidak nyaman menggenggam rupiah.

Itu yang membuat rupiah kini benar-benar berada di tubir jurang. Kalau kepercayaan dan kenyamanan orang terus-terusan terkikis, bukan tidak mungkin rupiah benar-benar terjerembab ke jurang kehancuran dan melahirkan implikasi serius terhadap ekonomi nasional.

Tren pelemahan rupiah ini sekaligus menegaskan hasil kajian Invesment Research USB -- sebuah bank besar yang berkedudukan di Swis. Menurut kajian yang dipublikasikan belum lama berselang itu, rupiah merupakan satu-satunya mata uang di lingkungan ASEAN yang konstan mengalami pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS sejak Januari 2012.

Berbeda dengan rupiah, selama Januari 2012 hingga medio Mei 2013 -- yang menjadi periode kajian Investment Research USB -- mata uang seperti peso Filipina, dolar Singapura/Brunei Darussalam, ringgit Malaysia, dan baht Thailand praktis menunjukkan tren menguat.

Jadi, kurs rupiah melenggang sendirian di jalur berbeda dengan mata-mata uang lain di ASEAN. Padahal selama tahun 2011, pergerakan kurs rupiah dibanding dolar AS ini tak terkecuali memperlihatkan grafik menguat seperti berbagai mata uang lain di ASEAN.

Tentu kita sangat berharap tren pelemahan rupiah ini bisa segera diakhiri. Untuk itu, pemerintah dituntut benar-benar serius membenahi kinerja ekonomi nasional, terutama kinerja ekspor. Sebab, seperti analisis Bank Indonesia (BI), kurs rupiah cenderung terus tertekan karena neraca transaksi berjalan semakin memburuk.

Menurut BI, dalam triwulan II/2013 neraca transaksi berjalan mengalami defisit 9,8 miliar dolar AS. Kondisi tersebut meningkat signifikan dibanding triwulan I/2013 sebesar 5,8 miliar dolar AS. Itu berarti, kinerja ekspor makin jauh tertinggal dibanding impor.

Jadi, pembenahan kinerja ekspor sungguh menjadi kebutuhan mendesak. Bagaimanapun, kinerja ekspor merupakan faktor yang bisa memicu sentimen positif maupun negatif di pasar uang. Kalau saja kinerja ekspor tetap memble, sehingga neraca transaksi berjalan terus defisit, kepercayaan terhadap rupiah niscaya kian menguap.

Selain kinerja ekspor, faktor-faktor yang selama ini membuat nilai impor kian membangkak juga harus bisa dikendalikan. Sebut saja pemenuhan kebutuhan akan bahan pokok pangan seperti beras, gula pasir, daging sapi, bawang, juga cabai tak boleh terus diandalkan terhadap impor. Terlebih bahan-bahan pokok seperti itu sebetulnya tak layak diimpor kalau saja kegiatan produksi di dalam negeri bisa dibuat optimal.***

Jakarta, 19 Agustus 2013

31 Mei 2013

Rupiah Kian Merisaukan


Pergerakan nilai tukar rupiah terasa makin merisaukan. Merisaukan, karena kurs rupiah dibanding dolar AS dewasa ini cenderung terus tertekan. Merisaukan, karena kondisi tersebut merupakan pertanda bahwa pamor rupiah meluntur.

Juga merisaukan, karena kondisi tersebut memiliki implikasi serius terhadap ekonomi nasional secara keseluruhan. Beban utang luar negeri, misalnya, otomatis menjadi lebih membengkak.

Lebih merisaukan lagi, kecenderungan kurs rupiah yang terus melunglai terhadap dolar AS ini sudah menggejala sejak awal tahun lalu. Hasil kajian Invesment Research USB -- sebuah bank besar yang berkedudukan di Swis -- bahkan mengungkapkan bahwa rupiah merupakan satu-satunya mata uang di lingkungan ASEAN yang konstan mengalami pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS selama rentang Januari 2012 hingga medio Mei 2013 ini.

Berbeda dengan rupiah, selama periode Januari 2012 hingga medio Mei 2013, mata uang seperti peso Filipina, dolar Singapura/Brunei Darussalam, ringgit Malaysia, dan baht Thailand praktis menunjukkan tren menguat. Jadi, kurs rupiah melenggang sendirian di jalur berbeda dengan mata-mata uang lain di ASEAN. Padahal selama tahun 2011, pergerakan kurs rupiah dibanding dolar AS ini tak terkecuali memperlihatkan grafik menguat seperti mata-mata uang lain di ASEAN.

Menurut data di Bank Indonesia, nilai tukar rupiah selama tahun 2011 stabil di level 8.391 hingga 8.900 per dolar AS. Namun mulai Januari 2012, kurs rupiah terus melemah dari posisi 9.079 menjadi 9.714 per dolar AS pada 17 Mei 2013.
Di pasar uang, Jumat kemarin posisi rupiah memang menguat 9 poin dibanding Kamis lalu di level 9.811 per dolar. Namun secara keseluruhan, penguatan itu tidak serta-merta melegakan. Mungkin itu cuma gejala sesaat, sehingga belum bisa menjadi indikasi bahwa pergerakan rupiah mulai kembali ke jalur yang benar.

Boleh jadi, seperti analisis Bank Indonesia, kurs rupiah cenderung terus tertekan karena neraca transaksi berjalan belakangan ini rapuh. Hingga kuartal I/2013, neraca transaksi berjalan ini defisit 6,6 miliar dolar AS. Sementara neraca transaksi berjalan negara-negara lain di ASEAN pada saat bersamaan mencatatkan surplus.

Namun boleh diyakini, neraca transaksi berjalan yang rapuh bukan satu-satunya faktor. Rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang terus menggantung dalam keraguan dan ketidakyakinan pemerintah juga turut memberi kontribusi terhadap tren depresiasi rupiah ini. Dalam konteks itu, dunia bisnis -- termasuk pelaku pasar uang -- kehilangan pegangan, dan karena itu terdorong melakukan ekspektasi-ekspektasi yang membuat kurs rupiah makin tertekan.

Tren pelemahan nilai tukar rupiah ini jelas harus bisa segera diakhiri. Bagaimanapun, tren itu secara psikologis sudah menjadi kanker yang berbahaya. Dengan kurs yang sekarang ini sudah terdepresiasi relatif dalam dibanding posisi akhir tahun 2011, pelaku pasar uang makin tidak nyaman dan tidak percaya diri menggenggam rupiah. Artinya, sepanjang sinyal-sinyal positif dan meyakinkan tidak diperlihatkan pemerintah maupun Bank Indonesia, kurs rupiah sangat potensial terus tertekan.

Upaya mengakhiri tren pelemahan kurs rupiah ini tak cukup ditempuh lewat intervensi ke pasar uang. Bahkan bisa-bisa langkah tersebut justru makin mengikis kepercayaan pelaku pasar uang terhadap rupiah -- karena cadangan devisa berisiko terkuras.

Membalikkan arah pergerakan kurs rupiah ke jalur yang konstan menguat -- atau ke titik keseimbangan baru -- bagaimanapun menuntut langkah taktis di pihak Bank Indonesia maupun pemerintah. Langkah tersebut, tak bisa tidak, harus berangkat dari akar masalah yang selama ini membuat kurs rupiah tertekan. Justru itu, akar masalah  tersebut harus mampu diidentifikasi.***

Jakarta, 31 Mei 2013

26 November 2007

Rupiah Kian Bergerak Liar

Sebagai konsekuensi kita menganut rezim devisa mengambang, fluktuasi nilai tukar rupiah sungguh sulit dihindari. Selalu membayang. Seiring hukum permintaan dan penawaran, fenomena fluktuasi kurs setiap saat bisa terjadi. Terlebih ekonomi kita sudah merupakan bagian integral dunia global.

Artinya, gejolak kurs yang terjadi di belahan negara lain, lambat atau cepat pasti mengimbas pula ke dalam negeri. Jadi, fluktuasi kurs adalah fenomena biasa.

Tetapi manakala cenderung tidak normal, fluktuasi kurs segera mengundang waswas. Entah melemah ataupun menguat, gejolak kurs yang relatif tidak normal hampir selalu serta-merta memunculkan kekhawatiran. Jangan-jangan situasi tak terkendali. Jangan-jangan perkembangan tak bakal segera membaik.

Kenyataan seperti itu pula yang kini mulai membayang di tengah masyarakat. Ini sejak kurs rupiah cenderung terus tertekan terhadap dolar AS. Sejak nilai tukar rupiah semakin melemah. Terlebih perkembangan tersebut merupakan anomali. Sebab, memang, kurs berbagai mata uang lain terhadap dolar AS justru menguat. Artinya, arah pergerakan kurs rupiah sekarang ini lain sendiri.

Anomali itu pula yang membuat kekhawatiran di masyarakat jadi kian mengental. Karena tak memperoleh penjelasan gamblang tentang itu, masyarakat semakin waswas. Bahwa arah pergerakan kurs rupiah ke depan ini semakin memburuk. Apalagi kondisi ekternal -- terutama harga minyak mentah di pasar dunia -- potensial kian serius menekan.

Fenomena itu bisa berbahaya. Sikap dan perilaku irasional mulai dominan dalam menyikapi kondisi kurs rupiah. Seolah-olah kondisi objektif ekonomi makro di dalam negeri, yang sesungguhnya tak perlu dikhawatirkan, sama sekali tak bermakna. Seolah-olah fundamental ekonomi nasional yang relatif kokoh hanya bermakna di atas kertas.

Itu berbahaya karena bisa membuat situasi jadi tak terkendali. Ibarat bola salju, kepanikan masyarakat justru bisa membuat kurs rupiah kian terjerembab. Pada gilirannya, seperti pernah kita alami sepuluh tahun lalu, sendi-sendi ekonomi nasional niscaya rontok. Kalau sudah begitu, krisis ekonomi jelas kembali menerpa.

Dalam situasi seperti itu, kita angkat topi terhadap Bank Indonesia (BI). Menghadapi gejolak kurs rupiah sekarang ini, BI tetap mampu bersikap dingin. BI tak terkesan ikut larut dalam kecemasan dan kepanikan yang kini mulai membayangi masyarakat. Sejauh terungkap lewat pernyataan beberapa pejabat BI, kita menangkap kesan bahwa BI masih bisa mengatasi masalah.
Sikap BI itu adalah poin penting. Sebab, manakala BI selaku otoritas moneter ikut-ikutan goyah, apalagi panik, maka perkembangan kurs rupiah niscaya semakin memburuk. Gejolak kurs tak bakal lagi bisa efektif terkontrol.

Namun sikap tenang saja tidak cukup. Yang lebih penting sekarang ini, BI harus melakukan aksi. BI harus berbuat sesuatu yang bisa meredakan kepanikan di masyarakat. BI tak boleh memberi ruang sedikit pun yang bisa membuat kepanikan di masyarakat semakin menggila.

Dengan kata lain, BI harus bisa meyakinkan bahwa segala kecemasan tentang kurs rupiah sama sekali tak beralasan. Pertama, karena fundamental ekonomi nasional justru mengesankan -- dalam arti tidak punya celah yang bisa membuat kurs rupiah tertekan. Kedua, karena gejolak kurs sekarang ini lebih karena faktor eksternal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Untuk itu, BI harus memberi penjelasan meyakinkan mengenai faktor-faktor yang membuat kurs rupiah kini menunjukkan anomali.

Ketiga, ini yang lebih penting, BI tak membiarkan nilai tukar rupiah terus bergulir liar sesuai tekanan pasar. BI sudah saatnya melakukan intervensi. Mungkin tak harus jor-joran. Yang penting, pasar harus diyakinkan bahwa BI tak tinggal diam. Terlebih dengan cadangan devisa yang kini relatif melimpah, BI mestinya tak terlalu sulit menggebrak pasar.***
Jakarta, 26 November 2007

14 Mei 2004

Gejolak Kurs

Benar, gejolak kurs adalah fenomena biasa. Bukankah setiap hari kurs ataupun indeks harga saham gabungan di pasar modal selalu berfluktuasi?

Tetapi apakah perkembangan belakangan ini, yang menunjukkan kurs rupiah cenderung tertekan hingga mencapai hitungan signifikan dibanding beberapa pekan lalu, masih terbilang fenomena biasa? Terus-terang, kita justru dibuat waswas. Perkembangan kurs rupiah belakangan ini sungguh terasa tak biasa lagi. Setelah sekian lama stabil di level Rp 8.500-an per dolar, belakangan rupiah terus tertekan hingga menembus level psikologis Rp 9.000 per dolar.

Senin lalu, kurs rupiah terkunci di posisi Rp 8.940 per dolar. Sehari kemudian, rupiah lebih tertekan lagi di level Rp 8.990 per dolar. Pada Rabu lalu, memang posisi rupiah ini sedikit membaik menjadi Rp 8.957 per dolar -- konon itu karena intervensi Bank Indonesia ke pasar uang dengan menaburkan dolar AS. Sementara Kamis kemarin, rupiah kembali meleleh hingga ke level Rp 9.015 per dolar. Peningkatan peringkat utang Indonesia oleh Standard and Poor's pun ternyata tak mampu menahan depresiasi rupiah ini.

Justru itu, kita jadi teringat lagi saat puncak krisis dulu ketika kurs rupiah meleleh hingga ke level Rp 15.000-an per dolar AS. Karena itu, meski Menkeu Boediono menyatakan bahwa perasaan waswas menyangkut perkembangan kurs belakangan ini sama sekali tak beralasan, bayangan getir saat puncak krisis dulu tetap saja membayang pekat di benak kita. Apalagi indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga sempat menunjukkan kecenderungan terus tertekan.

Di sisi lain, kita juga melihat bahwa raksasa ekonomi ekonomi AS menunjukkan gelagat segera bangkit kembali. Itu yang membuat kalangan pemilik modal tergerak merapat ke AS -- termasuk dengan menempatkan dana mereka dalam denominasi dolar AS. Ditambah ekspektasi bahwa bank sentral AS tak lama lagi menaikkan suku bunga, arus merapat ke ekonomi AS ini kian deras saja.

Itu pula yang membuat mereka yang memiliki banyak dana jadi tak merasa nyaman menggenggam rupiah. Dalam konteks ini, investor di pasar modal lokal pun berbondong-bondong mengalihkan potofolio mereka dari saham atau rupiah ke mata uang dolar AS. Bahkan, seperti diungkapkan Gubernur Bank Indonesia, beberapa bank asing ikut-ikutan memanfaatkan situasi dengan berspekulasi valuta asing di pasar uang dan kemudian dananya mereka transfer ke luar negeri.

Memang, bau spekulasi terasa pekat mewarnai sikap-tindak kalangan pemilik modal ini. Tetapi, sekali lagi, itu terkait dengan soal ekspektasi menyangkut ekonomi AS yang lebih menjanjikan kenyamanan dan keuntungan. Terlebih tingkat bunga di Indonesia kini sudah tidak menarik lagi sebagai wahana investasi. Belum lagi kondisi sosial-politik yang terasa memanas menjelang pemilihan presiden 5 Juli semakin menjadi pijakan bagi mereka yang menggenggam banyak dana untuk mengalihkan portofolio investasi mereka ke denominasi dolar AS. Sejumlah faktor lain lagi juga turut mengondisikan kecenderungan itu. Sebut saja, antara lain, rencana pemerintah mengubah kebijakan perpajakan pada transaksi jual-beli saham.

Walhasil, tampaknya, perkembangan yang menunjukkan kurs rupiah cenderung tertekan ini bukan lagi gejala biasa dan bukan pula sementara. Bagaimanapun, soal kebangkitan ekonomi AS terlampau dominan untuk kita tepiskan sebagai faktor yang cuma sesaat menekan kurs rupiah.

Karena itu, pemerintah tak cukup sekadar menyatakan bahwa masyarakat tak beralasan waswas oleh gejolak kurs maupun indeks harga saham gabungan di pasar modal belakangan ini. Apa yang lebih relevan ditunjukkan adalah memperlakukan gejolak itu bukan lagi sebagai gejala biasa dan temporer. Untuk itu, pemerintah amat dituntut segera melakukan langkah-langkah antisipatif yang bisa diandalkan mampu menahan laju depresiasi rupiah agar tak terpuruk terlampau dalam.

Dalam konteks itu, sejumlah kalangan menyebut kenaikan suku bunga sebagai salah satu alternatif yang relevan atau bahkan amat urgen dilakukan Bank Indonesia sekarang ini. Mereka berkeyakinan bahwa alternatif tersebut bisa cukup diandalkan membuat arus keluar modal (capital outflow) yang belakangan ini menggejala bisa dibendung. Dengan itu, kurs rupiah bisa pun kita harapkan terapresiasi kembali. Itu, pada gilirannya, bukan saja memungkinkan investasi dalam fortofolio di pasar modal terdongkrak kembali, melainkan juga luput menorehkan defisit APBN 2004 semakin menganga lebar.

Tapi, untuk itu, kita tak tahu sampai ke level berapa suku bunga di dalam negeri ini perlu segera didongkrak. Yang pasti, alternatif tersebut bukan berarti tak menuntut harga
mahal. Yakni kita harus rela kehilangan momentum suku bunga rendah yang hampir setahun ini tergelar nyata. Jadi, setelah nanti suku bunga ini didongkrak lagi, entah kapan kita bisa menemukan kembali momentum tersebut. Padahal momentum itu sendiri selama ini belum benar-benar bisa kita manfaatkan.***
Jakarta, 14 Mei 2004

29 Juli 2003

Tren Depresiasi Rupiah

Fluktuasi kurs sebenarnya soal biasa. Nilai tukar dolar AS saja tak senantiasa perkasa. Pada saat tertentu, kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama lain di dunia bisa tersungkur tanpa daya. Lalu pada saat lain, nilai tukar mata uang tersebut kembali menguat perkasa -- sampai pada saatnya melemah kembali. Begitu seterusnya ganti-berganti.

Karena itu, soal fluktuasi kurs ini mestinya tak mengundang heboh -- apalagi membuat panik. Fluktuasi adalah gejala normal: pertanda bahwa mekanisme pasar berjalan.

Tapi bagi rupiah, fluktuasi nilai tukar hampir selalu mengundang heboh. Juga menerbitkan kecemasan, waswas, rasa miris, sangsi, bingung, atau bahkan panik. Ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar cenderung menguat signifikan, banyak kalangan dibuat gundah. Terutama bagi kalangan eksportir, kurs rupiah yang kokoh kuat adalah petaka karena daya saing berbagai komoditas ekspor jadi melorot.

Begitu juga ketika kurs rupiah cenderung melemah seperti terjadi belakangan ini: kehebohan lagi-lagi merebak. Kecemasan, kesangsian, atau kepanikan serta-merta membayang. Spekulasi pun mengental di benak banyak kalangan: seakan-akan depresiasi rupiah ini adalah awal krisis moneter seperti pada 1997 silam.

Memang, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir memastikan depresiasi bergulir dalam hitungan berarti. Nilai tukar rupiah terus menggelincir dari Rp 8.240 per dolar AS pada posisi dua pekan silam menjadi Rp 8.515 per dolar pada penutupan perdagangan Jumat lalu. Bahkan kalau saja Bank Indonesia tidak mengguyurkan dolar ke pasar, nilai tukar rupiah ini pasti lebih jeblok lagi.

Terus-terang, kita ragu terhadap asumsi yang menyebutkan bahwa depresiasi rupiah kali ini terkait dengan aksi kalangan korporat memburu dolar AS dalam rangka membayar utang. Mungkin benar, kalangan korporat dihadapkan pada kebutuhan mendesak berupa membayar utang yang segera jatuh tempo. Tapi kita tidak yakin bahwa kebutuhan tersebut merupakan penyebab aksi buru dolar AS.

Apa yang lebih mungkin terjadi adalah bahwa aksi buru dolar AS oleh kalangan korporat ini merupakan cermin kepanikan mereka atas pergerakan rupiah yang belakangan cenderung melemah. Sebagai tindakan antisipasi mengamankan risiko kurs dalam rangka membayar utang, mereka berlomba memburu dolar AS. Tapi justru karena itu pula, rupiah malah kian deras terdepresiasi.

Dengan kata lain, aksi buru dolar itu justru merupakan faktor yang kian memacu nilai tukar rupiah semakin tergelincir. Justru itu pula, boleh jadi tekanan terhadap kurs rupiah ini masih akan terus berlangsung. Makin kencang ksi buru dolar AS, kurs rupiah kian tertekan. Nilai tukar yang semakin terdepresiasi pun, pada gilirannya, kian membuat panik kalangan korporat hingga mereka lebih membabi-buta memburu dolar AS.

Atas dasar itu pula, Bank Indonesia pun merasa perlu melakukan intervensi ke pasar. Untuk menahan kurs rupiah tidak semakin jeblok oleh tindakan spekulasi, Bank Indonesia menggelontorkan dolar ke pasar uang. Tapi sampai kapan itu beralasan dilakukan jika tekanan spekulasi ternyata tak kunjung surut?

Awalnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah ini dipicu oleh kalangan investor asing memindahkan portofolio mereka ke denominasi dolar AS. Tapi mestinya itu tak serta-merta menimbulkan kepanikan, terutama di kalangan korporat kita yang masih memikul beban utang luar negeri. Toh tindakan kalangan investor asing mengalihkan portofolio investasi dalam denominasi rupiah ke dolar AS ini bukan tanpa alasan mendasar. Yakni karena rupiah sebagai alternatif investasi sudah kehilangan daya tarik akibat sukubunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sudah melorot di bawah level 10 persen.

Bahwa Bank Indonesia terus menurunkan tingkat bunga SBI hingga mencapai 9,17 persen, itu sebenarnya bukan tindakan salah. Bahkan langkah tersebut strategis: untuk merangsang perbankan nasional menjalankan fungsi intermediasi yang akan membuat sektor riil segera bergerak kembali.

Namun kenapa tingkat bunga SBI ini seolah menjadi biang penyebab kepanikan pasar hingga terjadi aksi buru dolar AS, padahal tindakan tersebut justru menekan nilai rukar rupiah? Boleh jadi, kecenderungan itu merupakan cermin ketidakpercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Pasar tidak pede mengenai kondisi ekonomi kita saat ini maupun masa datang. Meski secara keseluruhan fundamental ekonomi kita sekarang sudah bagus, pasar tetap saja merasa tidak tenang dan tidak nyaman oleh tren depresiasi rupiah belakangan ini -- dan karena itu pasar dilanda waswas serta panik.

Pasar tidak pede mengenai kondisi ekonomi nasional, karena pemerintah sendiri terkesan gamang dalam mengambil keputusan menyangkut kondisi-kondisi strategis dan mendesak. Konsep exit strategy pascakontrak IMF, misalnya, hingga kini dibiarkan menggantung. Pemerintah terkesan tidak memiliki keyakinan mengenai opsi yang harus dipilih. Antarpejabat tinggi malah asyik bersilang pendapat dan seperti lupa bahwa keputusan mengenai opsi exit strategy harus segera diambil.***
Jakarta, 29 Juli 2003

28 Juni 2003

Haruskah Rupiah Dibendung?

Keperkasaan rupiah sebenarnya amat kita nantikan. Nilai tukar rupiah yang kokoh-kuat sungguh kita impikan. Kita sudah merasakan betapa pahit dampak yang kita pikul akibat anjloknya kurs rupiah ini, khususnya terhadap dolar AS. Kita terjerembab ke dalam krisis ekonomi -- notabene hingga kini belum juga sirna -- tak lain akibat kurs rupiah rontok. Bahkan industri perbankan kita nyaris bangkrut karena dipicu oleh hancurnya nilai tukar rupiah kita ke level yang sungguh tidak masuk akal pada 1998 silam.

Singkat kata, kerontokan nilai tukar rupiah sungguh pahit dan melahirkan beban berkepanjangan. APBN, misalnya, entah kapan bisa benar-benar lepas dari beban utang berupa obligasi rekap bank. Jumlah utang luar negeri kita juga terasa lebih menghimpit-menyesakkan selama kurs rupiah menapak di level rendah.

Karena itu, ketika sejak triwulan keempat tahun lalu rupiah menunjukkan tendensi menguat, kita merasa lega. Terlebih penguatan itu terus berlangsung dan kian meyakinkan. Hanya dalam tiga pekan terakhir, misalnya, kurs rupiah sudah menguat hampir 5 persen dari Rp 8.675 menjadi Rp 8.325 per dolar pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Kenyataan itu serta-merta menerbitkan harapan-harapan yang berujung pada satu kesimpulan bahwa beban hidup kita bisa menjadi lebih ringan. Kurs rupiah yang perkasa sangat mungkin membuat pemerintah tak merasa perlu menaikkan tarif dasar listrik ataupun harga bahan bakar minyak (BBM). Harga aneka aneka barang dan jasa pun -- terutama yang relatif banyak terkait dengan mata uang dolar AS -- bisa turun menjadi relatif lebih murah.

Di sisi lain, dalam skala lebih luas, penguatan rupiah ini tak terkecuali bisa membuat beban pemerintah jadi jauh berkurang. Nominal rupiah yang harus dikumpulkan untuk mencicil utang luar negeri, misalnya, jelas menyusut. Di sisi lain, beban bunga obligasi rekap juga sangat mungkin jadi berkurang dalam jumlah signifikan -- karena tingkat sukubunga terseret turun.

Justru itu, nilai defisit APBN pun jelas jadi menyempit. Ini, pada gilirannya, membukakan harapan: pemerintah menggelar program-program perbaikan kesejahteraan sosial.

Boleh jadi, rupiah masih akan lebih perkasa lagi. Penguatan kurs tampaknya memang belum akan berhenti. Betapa tidak, karena sejumlah faktor masih membukakan ruang ke arah itu. Sebut saja obligasi pemerintah yang menawarkan tingkat keuntungan menggiurkan. Dengan tingkat yield sebesar 13-an persen, bagaimanapun kalangan investor asing sulit tidak tergoda untuk tidak memindahkan investasi mereka dari dolar ke rupiah. Terlebih, di sisi lain, peringkat utang pemerintah dalam denominasi rupiah juga membaik.

Entah sampai level berapa keperkasaan rupiah ini akan terjadi. Yang pasti, level nilai tukar yang sekarang ini belum lagi menembus Rp 8.000 per dolar saja sudah membuat sejumlah kalangan berteriak. Bagi mereka, keperkasaan rupiah justru merugikan: daya saing komoditas ekspor mereka melemah.

Memang, penguatan kurs rupiah membuat aneka komoditas ekspor kita menjadi lebih mahal. Padahal kondisi ekonomi AS maupun Jepang yang menjadi pasar utama ekspor kita sekarang ini justru sedang tidak kondusif. Jadi, terutama bagi eksportir -- terlebih mereka yang banyak menggunakan bahan baku impor, semisal kalangan pengusaha tekstil dan produk tekstil -- penguatan rupiah terasa menjadi petaka.

Tapi apakah level nilai tukar rupiah kini sudah benar-benar membuat aneka komoditas ekspor kita kehilangan daya saing? Haruskah penguatan kurs rupiah ini sekarang sudah saatnya dihambat atau bahkan dihentikan sebagaimana penuturan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Anwar Nasution?

Jujur saja, kita tidak setuju terhadap gagasan seperti itu. Kita sungguh tak rela jika impian kita selama ini -- rupiah benar-benar perkasa -- harus kita redupkan lagi semata agar aneka komoditas ekspor kita tetap berdaya saing. Terlebih tak ada data meyakinkan yang memperlihatkan bahwa kinerja ekspor kita berbanding lurus dengan nilai tukar rupiah. Ketika kurs rupiah benar-benar terpuruk, buktinya, kinerja ekspor tak serta-merta melonjak luar biasa. Kinerja ekspor kita ketika itu tetap dalam taraf biasa-biasa saja.

Walhasil, tampaknya, nilai tukar rupiah adalah satu soal. Sementara daya saing komoditas ekspor adalah soal lain. Karena itu, gagasan untuk menahan laju penguatan kurs rupiah sekarang ini sungguh tak relevan. Apa yang beralasan dan amat urgen dilakukan pemerintah dan dunia usaha justru meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri. Patut kita akui, proses produksi industri kita amat tindak menunjang daya saing komoditas ekspor. Sebut saja aneka pungutan -- entah resmi ataupun liar -- sudah lama menjadi benalu yang amat membebani.

Soal penguatan kurs rupiah sendiri biar saja bergerak alamiah. Tapi Bank Indonesia dan pemerintah perlu tetap waspada sekaligus menyiapkan langkah-langkah antisipasi: karena keperkasaan rupiah ini lebih banyak lantaran arus masuk dana asing dalam jumlah besar-besaran tertuju ke investasi dalam portofolio. Kita tahu, itu amat rentan: sewaktu-waktu dana bisa ditarik kembali dan arus pun seketika berbalik arah menjadi amat menekan atau bahkan merontokkah rupiah.***

Jakarta, 28 Mei 2003

04 April 2003

Nilai Tukar Dolar

Apakah kedigjayaan dolar AS sebagai mata uang yang digunakan dalam transaksi internasional segera berakhir? Entahlah. Yang pasti, belakangan ini nilai tukar dolar terhadap euro memang terus terpuruk. Awal pekan ini, misalnya, di New York dolar AS melemah lagi ke posisi 1,0828 dolar per euro dari posisi penutupan perdagangan Jumat pekan lalu sebesar 1,0778 dolar per euro. Di sisi lain, terhadap yen, nilai tukar dolar AS ini juga melemah ke posisi 119,55 yen dari semula 119,89 yen per dolar.

Banyak kalangan memperkirakan bahwa depresiasi dolar AS terhadap euro ini masih akan berlangsung. Ahli Strategi Mata Uang di Sydney at Westpac Banking Corp, Robert Rennie, misalnya, berani menyebutkan bahwa nilai tukar dolar terhadap euro akan terus melemah hingga paling tidak mencapai 1,1 dolar AS per euro. Tentang itu, seperti juga sejumlah kalangan lain, Rennie menunjuk perang AS-Irak sebagai faktor penekan. "Situasi di Irak yang makin parah dengan adanya aksi bom bunuh diri menambah risiko penurunan nilai tukar dolar AS berlanjut," katanya, Senin lalu.

Lalu apakah setelah kelak perang AS-Irak berakhir, kurs dolar ini -- khususnya terhadap euro -- serta-merta beranjak pulih lagi? Tampaknya sulit. Perang yang sudah berakhir belum tentu otomatis cepat-cepat mengangkat kembali nilai tukar dolar AS. Terlebih bila perang itu berlangsung lama. Bagaimanapun, ongkos perang harus dibayar. Ongkos tersebut terutama berupa resesi ekonomi global.

Dalam konteks itu, ekonomi AS kemungkinan termasuk paling parah dan menderita. Sebagai pihak yang begitu bernafsu menggempur Irak, AS jelas habis-habisan mengeluarkan ongkos. Tak pelak lagi, ekonomi mereka pun -- notabene sejak George W Bush tampil jadi Presiden AS tak terbilang bagus -- pasti babak-belur. Dihadapkan pada kondisi dunia yang terjebak resesi, kondisi itu tampaknya sungguh sangat tidak kondusif bagi pemulihan nilai tukar dolar AS yang telanjur terpuruk.

Kenyataan itu bisa lebih mungkin lagi jika dikaitkan dengan kecenderungan yang sekarang mulai diperlihatkan sejumlah negara: enggan menjadikan dolar AS sebagai jangkar cadangan devisa maupun sebagai mata uang dalam melakukan transaksi internasional. Mereka beralih ke euro. Iran, misalnya, disebut-sebut sudah mulai mengikuti langkah Irak: mengganti cadangan devisa dari dolar AS ke euro. Juga dalam transaksi penjualan minyak.

Malaysia juga sudah memperlihatkan gelagat ke arah itu. Dalam forum Asia-Europe Meeting (Asem), tahun lalu, PM Mahathir Mohammad melontarkan gagasan yang membuat panas pihak AS: negara-negara Asia perlu mengganti dolar AS dengan euro sebagai cadangan devisa. Mahathir beralasan, nilai tukar euro cenderung lebih kuat dan lebih stabil dibanding dolar AS.

Belum terungkap, negara mana saja yang terpengaruh gagasan Mahathir ini. Bahkan, memang, Malaysia sendiri belum ketahuan apakah sudah mulai mempraktikkan gagasan itu. Namun sudah pasti, dalam skala mikro, gagasan tersebut mulai ramai disambut positif sejumlah kalangan. Di dalam negeri saja, Pertamina sudah tandas menyatakan bahwa transaksi ekspor minyak kini bisa dilakukan dalam euro. Begitu juga kalangan industri persepatuan: mereka bertekad mengubah transaksi ekspor dari dolar ke euro.

Kalau saja tren pengalihan transaksi internasional dari dolar ke euro ini terus membesar dan menggelombang, nilai tukar AS niscaya tertekan. Terlebih bila itu bukan lagi ramai dilakukan orang sekadar di level mikro, melainkan sudah merupakan gerakan yang dilakukan banyak negara: kurs dolar AS terhadap euro niscaya rontok. Fakta sudah gamblang menunjukkan: bahkan hanya dilakukan sebuah negara sekelas Irak saja pada 2000, langkah itu sudah langsung membuat kurs dolar AS tersodok. Tindakan pemerintahan Saddam Hussein itu pula -- mengonversi cadangan devisa Irak ke euro -- yang belakangan terbukti menjadi tonggak awal depresiasi dolar AS ini.

Karena itu, bisa dibayangkan jika langkah serupa ramai-ramai dilakukan banyak negara lain. Bahkan jika dilakukan sebuah negara bernama RRC saja, nilai tukar dolar AS pasti makin amblas hancur-hancuran -- maklum karena RRC merupakan negara yang paling banyak memiliki devisa. Kalau sudah begitu, kedigjayaan dolar AS sebagai mata uang dunia ini praktis berakhir sudah.

Kemungkinan itu jelas harus kita cermati dan kita antisipasi. Paling tidak, cadangan devisa kita jangan lagi melulu didominasi oleh dolar AS. Dengan demikian, manakala nilai tukar dolar AS makin terpuruk dan sulit bangkit lagi, kita tak ikut bonyok.

Memang, kita harus jernih dan obyektif mengambil sikap tentang nasib kurs dolar terhadap euro ini. Kita tak boleh emosional. Tak tak bijak juga kalau kita lantas tenang-tenang saja di tengah tren yang sudah gamblang terhampar.***

Jakarta, 4 April 2003