Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan

27 Februari 2012

Sebuah Asteroid Dekati Bumi

MOSKOW, KOMPAS.com - Sebuah asteroid bernama 2012 DA14 sedang bergerak mendekati Bumi. Tahun depan, asteroid tersebut akan ada pada jarak yang lebih dekat dari beberapa satelit buatan manusia yang mengorbit Bumi.

Pada tanggal 15 Februari 2013, asteroid itu akan melayang pada jarak 26.900 km. Jarak ini 6000 km lebih dekat dari beberapa satelit yang mengorbit Bumi dari jarak 35.700 km.

Asteroid itu terdeteksi pertama kali oleh Spanish Observatorio Astronomico de La Sagra. Ukuran satelit itu sekitar 4-50 meter, tergolong asteroid dekat Bumi dan memiliki potensi menumbuk Bumi.

Para stronom masih akan terus memonitor asteropid ini untuk mengetahui ukuran secara pasti dan jalurnya. Menurut prediksi astronom, seperti diuraikan Ria Novosti, Senin (27/2/2012), asteroid sebesar 50 meter potensial menimbulkan ledakan di atmosfer yang besarnya 1000 kali lebih besar dari bom di Hiroshima.

Meski demikian, masih perlu penelitian untuk menentukan apakah asteroid ini akan berdampak pada Bumi atau tidak.***


http://sains.kompas.com/read/2012/02/27/17264954/Sebuah.Asteroid.Bergerak.Mendekati.Bumi

13 Februari 2012

Bagaimana Jika Kutub Bumi Berbalik?

TEMPO.CO , PARIS :--Sepanjang sejarah, kutub magnetik bumi mengalami pembalikan hingga ratusan kali. Kini ilmuwan, seperti dikutip Livescience, mengamati peristiwa pembalikan tersebut mulai terjadi.

Kutub magnetik bumi dihasilkan oleh atom-atom besi di inti bumi yang bersusun bersama membentuk magnet raksasa. Batang magnet raksasa di tengah bumi inilah yang menyebabkan jarum kompas selalu mengarah ke kutub utara dan selatan.

Namun catatan geologi dari tanah di dasar Samudera Atlantik menunjukkan kutub magnetik bisa berbalik arah oleh sebab yang belum diketahui. Perubahan ini menyebabkan jarum kompas berputar 180 derajat dari posisi saat ini.

Proses pembalikan arah memakan waktu tak singkat yaitu sekitar 1.000-10.000 tahun. Selama waktu itu pula medan magnet bumi melemah. "Bumi akan memiliki lebih dari dua kutub magnet hingga inti mengumpulkan kekuatannya," ujar Monika Korte, Direktur ilmiah dari Niemegk Geomagnetic Observatory, Jerman.

Pelemahan medan magnet selama proses pembalikan akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Maklum saja, medan magnet merupakan tameng pelindung bumi dari serangan partikel kosmik berbahaya yang datang dari luar angkasa. Apakah pelemahan ini mengancam keselamatan manusia?

Profesor Geofisika dari University of Rochester, John Tarduno mengatakan, tanpa medan magnet, bumi mudah ditembus badai matahari. Partikel kosmik bereaksi dengan atmosfer menciptakan lubang ozon besar yang bertahan selama 1-10 tahun. "Penyakit kanker kulit akan meningkat," ujar dia.

Pelemahan medan magnet seperti ini juga dikaitkan dengan penyusutan populasi manusia Neandertal oleh ahli dari geologi dari Institute of Earth Physics of Paris, Jean-Pierre Valet.

Korte berbeda pendapat dengan dua peneliti sebelumnya. Menurut dia, selama proses pembalikan, atmosfer bekerja sebagai tameng cadangan dan menepis partikel berbahaya. Karenanya tak akan ada dampak berbahaya pada tubuh manusia.

Meski demikian, ia mengingatkan, teknologi komunikasi dan jaringan listrik menjadi rentan dirusak oleh partikel kosmik. "Penting bagi manusia menemukan strategi mitigasi," ujar Korte.

Pembalikan medan magnetik bumi terakhir kali terjadi sekitar 780 ribu tahun lalu ketika manusia berada di Zaman Batu. Sejak 160 tahun terakhir, ilmuwan mengamati tumbuhnya benih pembalikan medan magnetik di sekitar Brasil dan Atlantik Selatan. "Pertumbuhan berada pada tingkat yang membahayakan," kata Tarduno.

ANTON WILLIAM

12 Februari 2012

Benarkah Ada Piramida di Gunung Sadahurip?

TEMPO.CO, Bandung - Rumor adanya bangunan piramida di dalam Gunung Lalakon dan Sadahurip membuat penasaran sejumlah pakar geologi di Bandung. Sejak tahun lalu, mereka ikut meneliti di lokasi dan mengkaji sejarah pembentukan kedua gunung tersebut. Hasilnya, mereka yakin kedua gunung itu terbentuk alami, bukan berisi piramida ciptaan manusia.

Menurut pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sujatmiko, berdasarkan kajian geologi, ia sudah bisa memastikan dalam dua jam. Gunung Lalakon dan Sadahurip tidak berisi piramida. "Itu gunung api kecil berbentuk (limas) piramida, tapi bukan piramida," ujarnya di Auditorium Museum Geologi Bandung, Jumat, 3 Februari 2012.

Menurut dia, tak perlu menggali tubuh gunung untuk membuktikannya, melainkan cukup dari morfologi. Batuan di kedua gunung tersebut sebagian besar merupakan andesit atau batu belah. Pada singkapan batuan, kata Sujatmiko, tidak ada kandungan mineralnya. "Tidak ada batu mulia atau emas di sana," katanya.

Ia mempertanyakan dugaan adanya penimbunan batu atau bronjong oleh manusia zaman dulu untuk menutupi piramida. Sebab, batunya berukuran besar-besar. "Bagaimana mengangkutnya? Pakai helikopter?" tanyanya.

Gunung Lalakon berada di daerah Soreang, Kabupaten Bandung. Sedangkan Gunung Sadahurip berada di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Yayasan Turangga Seta, kata Sujatmiko, mengklaim kedua gunung tersebut berisi piramida.

Selain dari bentuknya yang agak mirip dari sisi tertentu, yayasan itu juga mengajak para ahli kebumian dari Bandung untuk membuktikan piramida tersebut.

Peneliti utama dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, juga mengatakan tak ada jejak artefak atau peninggalan buatan manusia di kedua gunung tersebut. "Di Indonesia tidak ada budaya piramida, kecuali punden berundak," ujarnya.

Adapun pakar gempa dari Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto, mengatakan para ilmuwan harusnya mengumpulkan bukti yang kuat dulu sebelum membuat kesimpulan. Ia mencontohkan kasus penemuan fosil manusia purba di Gua Pawon yang sebelumnya tak dipercaya Balai Arkeologi.

Menurut peneliti yang ikut dalam penggalian piramida di kedua gunung tersebut, masih ada yang belum terungkap soal gunung piramida itu sehingga menimbulkan kontroversi.

ANWAR SISWADI